mendidik akhlak anak

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Nasrani, Yahudi atau Majusi” (HR. Bukhari). Hadist ini merupakan sabda rasul yang populer dan sering didengar di telinga. Namun, tidak semua orang tua tau makna yang terkandung di dalamnya dan bahkan mereka asal-asalan dalam mendidik anaknya, dan yang lebih mengerikan lagi orang tua sampai tega membuang anak, darah dagingnya sendiri.
Anak merupakan karunia Allah yang tidak dapat dinilai dengan apapun. Ia menjadi tempat curahan kasih sayang orang tua. Namun sejalan dengan bertambahnya usia sang anak, muncul persoalan baru yang kemudian tiada kunjung habisnya. Ketika beranjak dewasa anak menampakkan wajah lugu dan santun, penuh berbakti kepada orang tua, berprestasi di sekolah, bergaul dengan baik dengan lingkungan masyarakatnya, tetapi di lain pihak dapat pula sebaliknya. Perilakunya semakin tidak terkontrol dan terkendali, bentuk kenakalan-kenakalannya itu berubah menjadi wabah yang menakutkan yang berupa kejahatan, dan orangtua pun selalu cemas memikirkanya.
Kahlil Gibran seniman kondang pada masanya, memberikan petikan puisi bahwa “anak adalah anak panah sedangkan ibu adalah busurnya…..”. Masa depan anak ditentukan sejauh mana mereka dididik dan dibina oleh ibunya. Dibandingkan ayah, seorang ibu memiliki peran yang lebih dalam mendidik, mengasuh, dan memberi keteladanan pada anak-anaknya. Biasanya, seorang ayah disibukkan dengan urusan mencari nafkah ekonomi untuk penghidupan istri, anak, dan keluarganya.
Selain peran besar ibu, ada yang lebih bertenaga dibanding peran ibu. Ibu hanya bagian kecil di dalamnya, yakni suatu cara yang sifatnya makro dan kaffah agar anak menjadi permata hati dambaan setiap orang tua dan lingkungannya, yaitu melalui pendidikan yang bersumber atas dasar nilai-nilai Islam.
Islam telah memberikan dasar-dasar konsep pendidikan dan pembinaan anak, bahkan sejak masih dalam kandungan. Jika anak sejak dini telah mendapatkan pendidikan Islam, Insya allah ia akan tumbuh menjadi insan yang mencintai Allah dan Rasul-nya serta berbakti kepada orengtuanya.
Upaya dalam mendidik anak dalam konsepsi Islam sering mengalami kendala. Perlu disadari disini, betapapun beratnya kendala itu, hendaknya orangtua bersabar dan menjadikan kendala-kendala tersebut sebagai tantangan dan ujian. Dalam mendidik anak setidaknya ada dua macam tantangan, yang satu bersifat internal dan yang satu lagi bersifat eksternal. Kedua tantangan ini sangat mempengaruhi perkembangan anak.

Peran Keluarga dalam Pendidikan
Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama dalam proses perkembangan manusia menuju kedewasaannya. tetapi peran besar keluarga sebagai base education tersebut belum dioptimalkan secara maksimal. Dalam hal ini, penulis berusaha mengupas bagaimana konsep keluarga dalam Islam? Dan bagaimana posisi keluarga dalam pendidikan?
Keluarga dikatakan sebagai “institusi” pendidikan yang pertama dan utama karena keluarga tempat pendidikan yang pertama bagi anak sebelum masuk pada lembaga-lembaga pendidikan formal, dan secara tidak langsung orang tua adalah guru pertama bagi anak-anak mereka, dan dikatakan sebagai “institusi” pendidikan utama karena pada usia balita sampai usia menginjak sekolah, anak pada usia ini cenderung untuk meniru, jadi secara tidak langsung orang adalah tauladan bagi para anak-anaknya.
Pendidikan anak dalam keluarga pada dasarnya adalah proses pendidikan menuju pertumbuhan dan perkembangan fitrahnya berupa potensi-potensi kebaikan yang dibawa sejak lahir. Kesalahan dalam pendidikan anak tersebut akan berakibat fatal, yakni si anak dapat menyimpang dari fitrah (nature) dan potensi kebaikannya berubah menjadi manusia yang mempunyai kualitas rendah. Oleh sebab itu dalam proses pendidikan anak dalam keluarga perlu memperhatikan pola asuh yang dikembangkan antara lain harus memperhatikan karakteristik anak, karakteristik kontens atau muatan materi, serta kondisi sosiologis dan psikologis keluarga.

About Sismanto

Sismanto, lahir di Pati, 28 tahun yang lalu. Putra pertama dari 4 bersaudara ini menghabiskan waktu remajanya selama 17 tahun di pondok pesantren sembari menimba ilmu pengetahuan umum, ia menamatkan S2 Magister Kebijakan Pendidikan (2006). Tulisan-tulisannya pernah menghiasi beberapa Koran dan majalah, baik lokal maupun nasional seperti; Koran Pendidikan, Kaltim Post, Tribun Kaltim, Majalah Spora, Majalah Mata Baca, dan pemimpin redaksi primagazine. Sementara buku pertamanya tidak jauh dari tulis menulis dan minat baca yang berjudul "Manajemen Perpustakaan Digital" (Afifa Pustaka, 2007). Buku keduanya ditulis secara kolosal "Menggenggam Cahaya" (Eska Publishing House, 2008). Pernah menjadi finalis lomba Karya Tulis Sinologi V Nasional di Yogyakarta (2007). Finalis Lomba Karya Tulis Nasional Departemen Agama RI (2007), dan finalis Lomba Karya Tulis Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3) di PT. Kaltim Prima Coal (2008). Saat ini aktivitasnya menjadi guru SD Primaschool PT. Kaltim Prima Coal, di samping itu juga sebagai konsultan pendidikan dan analis kebijakan pendidikan. Beliau punya motto "jadilah guru diri sendiri sebelum menjadi guru orang lain". Saat ini masih terobsesi menjadi "teroris ilmu pengetahuan” dan sedang mempersiapkan diri untuk kuliah S3. Sismanto dapat dihubungi dengan mengunjungi blog di Situs Pribadi Sismanto dan di Ketika Guru Menulis.
This entry was posted in Artikel and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s