Cerita Cinta Si Tukang Ramal

Judul         : Sihir Cinta
Pengarang     : Miranda
Halaman     : 292 Halaman
Penerbit     : GagasMedia
Terbit         : Februari 2005
Peresensi     : Sismanto

Dari judulnya, sudah jelas bahwa novel ini bercerita tentang seseorang berkemampuan spesial. Rhein Prabasnaya adalah seorang mahasiswi Universitas Gagasan Masa depan di Yogyakarta. Sejak kecil, Rhein dikarunia kemampuan melihat masa depan. Dia mampu meramal. Namun, kelebihan Rhein tidak diikuti keberuntungan. Justru karena bisa melihat masa depan, dia dianggap aneh orang-orang dilingkungannya. Soalnya, Rhein sering out of control begitu meramal orang. Waktu penglihatannya menunjukkan berita buruk, Rhein tanpa basa-basi berbicara terus-terang pada pasiennya. Padahal, tidak semua orang bisa menerima ramalan buruk itu. Akibatnya, Rhein dikucilkan.
Cerita cintanya nggak kalah mengenaskan. Padahal, Rhein punya fisik yang menawan. Tapi, dari 16 cowok yang mengencaninya, tidak satu pun yang sampai jadi pacar Rhein. Alasan mereka sama, Rhein adalah makhluk aneh.
Sampai suatu ketika, Rhein mendapat teman baik yang juga menjabat ketua angkatan, Mita. Untuk sebuah pengumpulan dana, Mita mengusulkan angkatan mereka mengambil stan di pameran yang diadakan kampus. Pilihan mereka jatuh untuk membuat stan ramalan. Celaka bagi Rhein, karena dia yang dikorbankan jadi juru ramal.
Cerita pun mulai berjalan di stan ramal ini. Rhein menemukan seseorang yang membuatnya merasakan love at the first sight. Berbeda dengan 16 cowok sebelumnya. Rhein menyebut cowok itu Lelaki Senja. Tapi, cerita dengan si Lelaki Senja tidak berjalan mulus. Dari sini, konflik-konflik mulai bermunculan. Rhein kebingungan antara mempercayai perasaan atau “penglihatan”-nya.
Dalam penglihatan itu Rhein mendapati bahwa dirinya akan menikah dengan Lelaki Senja yang dia temui di stan ramal. Rhein ragu akan kebenaran penglihatannya itu dan terus-menerus mengulangi dan mengulainya lagi, tetapi tetap sama seperti penglihatan sebelumnya.
Beberapa lama dalam stan ramal yang Rhein tunggui, Lelaki Senja itu sering sekali berkunjung bahkan hampir setiap hari dia selalu minta untuk di ramal. Lama-kelamaan akhirnya tumbuh rasa suka pada diri masing-masing dan merekapun sering jalan bareng kemana-mana.
Pada suatu hari Rhein kaget karena Lelaki Senja itu datang tiba-tiba ke rumahnya tanpa ada janji sebelumnya. Lelaki Senja itu datang dengan maksud untuk melamar Rhein, spontan Rhein bertambah kaget tapi sekaligus bahagia karena sesuatu yang selama ini tidak dia percayai ternyata terjadi.
Nilai negatif dari cerita ini adalah Rhein terlalu terbuka dalam mengutarakan segala yang diramalkan yang sebenarnya sesuatu itu belum tentu benar adanya. Kedua, Pasien yag kurang bisa menerima ramalan Rhein dan berusaha mengucilkan Rhein dari sekitarnya. Namun demikian, setiap sesuatu itu dapat diambil hikmahnya. Yakni dalam menghadapi liku-liku kehidupan hendaknya selalu sabar dan tabah tanpa tanpa harus putus asa dan rendah diri. Kedua, Kita harus bisa menjadi diri sendiri dan tidak selalu melihat pada pendapat orang lain. Ketiga, rasa sayang Lelaki Senja yang jujur dan serius terhadap Rhein yang ia wujudkan dengan melamar Rhein. Dan terakhir, rasa percaya diri Rhein yang terus berusaha dan berusaha untuk mencapai apa yang menjadi harapannya.
Buku ini bagus sekali untuk dibaca oleh kalangan remaja, karena mengandung banyak amanah yang terkandung dalam hidup dan dapat menjadi pelajaran. Di akhir ceritanya, kita akan disuguhi oleh Miranda dengan kejutan-kejutan yang membuat kita jadi penasaran. Sebelum akhirnya membiarkan cerita itu berjalan mulus menuju peraduannya.

About Admin

Sismanto, lahir di Pati, 28 tahun yang lalu. Putra pertama dari 4 bersaudara ini menghabiskan waktu remajanya selama 17 tahun di pondok pesantren sembari menimba ilmu pengetahuan umum, ia menamatkan S2 Magister Kebijakan Pendidikan (2006). Tulisan-tulisannya pernah menghiasi beberapa Koran dan majalah, baik lokal maupun nasional seperti; Koran Pendidikan, Kaltim Post, Tribun Kaltim, Majalah Spora, Majalah Mata Baca, dan pemimpin redaksi primagazine. Sementara buku pertamanya tidak jauh dari tulis menulis dan minat baca yang berjudul "Manajemen Perpustakaan Digital" (Afifa Pustaka, 2007). Buku keduanya ditulis secara kolosal "Menggenggam Cahaya" (Eska Publishing House, 2008). Pernah menjadi finalis lomba Karya Tulis Sinologi V Nasional di Yogyakarta (2007). Finalis Lomba Karya Tulis Nasional Departemen Agama RI (2007), dan finalis Lomba Karya Tulis Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3) di PT. Kaltim Prima Coal (2008). Saat ini aktivitasnya menjadi guru SD Primaschool PT. Kaltim Prima Coal, di samping itu juga sebagai konsultan pendidikan dan analis kebijakan pendidikan. Beliau punya motto "jadilah guru diri sendiri sebelum menjadi guru orang lain". Saat ini masih terobsesi menjadi "teroris ilmu pengetahuan” dan sedang mempersiapkan diri untuk kuliah S3. Sismanto dapat dihubungi dengan mengunjungi blog di Situs Pribadi Sismanto dan di Ketika Guru Menulis.
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s