Integrasi Nilai-Nilai Edukasi Dongeng dalam Kurikulum

Sismanto muda

Oleh: Sismanto

Diyakini dalam pelajaran Bahasa Indonesia termasuk di dalamnya tentang kesusastraan berperan besar dalam mengajarkan nilai-nilai luhur kepada anak bangsa (Kompas, 03/08/2004). Anak-anak mempunyai daya imajinasi yang beragam dibandingkan orang dewasa. Ketajamannya bermain peran untuk menghidupkan imajinasinya sering kali membuat orang tua kagum. Cerita yang ia lihat maupun yang ia baca sedikit banyak berperan dalam pembentukan kepribadiannya (character building).

Menonton sinetron atau membaca sebuah cerita sangatlah mudah dilakukan. Namun, bila seorang anak diberi tugas untuk menulis sebuah cerita baik khayalan maupun pengalamannya, daya kreasinya menjadi lamban. Bahkan, anak banyak yang tidak mampu menuangkan ide imajinasinya dalam bentuk tulisan. inilah yang membuat sangat sedikit lahir para penulis yang handal, padahal negeri ini kaya akan cerita-cerita rakyat, apabila digali dan dikembangkan akan menumbuhkan kepribadian anak bangsa yang cakap, tangguh, bahkan mampu bersaing dengan bangsa lain.

Guru sebagai jembatan penghubung misi penanaman nilai-nilai luhur itu perlu kiranya mencari metode yang tepat, sederhana agar siswa bisa menggali potensi dalam dirinya untuk berkarya, baik itu dalam bentuk tulisan maupun secara lisan. Keragaman bahasa yang keluar dari pikiran dan ucapan seorang anak berbeda dengan orang dewasa. Kalimat-kalimat yang lahir bisa menjadi jalan untuk mengajak anak lain mengamalkan nilai-nilai luhur tersebut.

Sementara itu, untuk mengajak anak untuk mengolah karsa dan rasanyanya, guru Bahasa berperan untuk mengajak siswa ikut menikmati pelajaran yang diberikan. Pembelajaran yang menyenangkan akan membuat suasana belajar mengajar menjadi lebih bermakna. Pembelajaran yang menarik berarti mempunyai unsur menggelitik bagi siswa untuk terus diikuti. pembelajaran yang menyenangkan berarti pembelajaran cocok dengan suasana yang terjadi di dalam diri siswa.

Sebagai pendidik sekaligus pengajar menjadi hal yang memalukan bila suara bel yang lembut di telinga, menjadi lengkingan yang keras di telinga siswa. Mengapa bisa terjadi hal seperti ini? Ini bisa dimaklumi bila siswa merasa dirinya tersiksa selama mengikuti pelajaran, seolah-olah bunyi bel menjadi “Dewa Penyelamat” dari kejenuhannya.

Keadaan pembelajaran menjadi menyenangkan bagi siswa, bila mereka merasa bel mengganggu kenikmatannya menyerap pelajaran yang kita berikan. Kata-kata yang terasa bagai embun yang menyejuk bila siswa mengucapkan “Yah…bel, terus saja Bu, tanggung”. Rasanya kata-kata yang terlontar dari bibir mereka merupakan siraman kasih yang sungguh menyegarkan kita untuk berpacu agar guru bisa segera menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Apabila di dalam diri guru tidak muncul gairah untuk mengajar atau belajar tentang hal-hal yang akan diajarkan atau dipelajarinya, maka di dalam lingkungan belajar mengajar itu agak sulit dikatakan ada kegembiraan.

Dalam soal ini setidaknya ada tiga implikasi. pertama perlu lebih menekankan pada kegiatan individual meskipun dilaksanakan secara klasikal, dalam soal ini diberi tugas individu, bukan secara kelompok. Kedua, perlu diupayakan lingkungan belajar yang kondusif, dengan metode dan media yang bervariasi, sehingga memungkinkan setiap peserta didik belajar dengan tenang dan menyenangkan. Ketiga, dalam pembelajaran perlu diberikan waktu yang cukup, terutama dalam penyelesaian tugas atau praktik, agar peserta didik bisa mengerjakan tugas belajar dengan baik. Implikasi itu mulai membuka mata guru sebagai pengajar untuk selalu mencoba sesuatu yang baru dan lebih bervariasi, baik dalam tugas maupun pembelajaran.

Demi kepentingan pendidikan banyak dimunculkan cerita dongeng yang bertujuan untuk pendidikan sosial yang bernilai luhur dan pendidikan etik moral yang menuju ke arah pembentukan watak lama (Nugroho, 1996:12). Dalam masyarakat tradisional, sastra berintegrasi dalam kehidupan sahari-hari. Seorang ibu yang menidurkan anaknya secara tidak sadar menyanyikan balada-balada yang indah. Seorang dukun yang membacakan mantera untuk menyembuhkan orang sakit atau menggunai seseorang secara tidak sadar juga berpuisi.

Semakin banyak dimunculkan cerita dongeng yang bertujuan untuk pendidikan sosial yang bernilai luhur dan pendidikan etik moral yang menuju ke arah pembentukan watak (Character building). Pendeknya, pembentukan watak dalam konteks pendidikan bisa dilakukan dengan pengintegrasian dongeng ke dalam kurikulum pendidikan.

Pembentukan watak dalam kacamata masyarakat tradisional, bahwa sastra (dalam hal ini dongeng) bersatu atau berintegrasi dalam kehidupan sahari-hari. Seorang ibu yang menidurkan anaknya secara tidak sadar menyanyikan balada-balada yang indah. Seorang dukun yang membacakan mantera untuk menyembuhkan orang sakit atau menggunai seseorang secara tidak sadar juga berpuisi. Namun, banyak guru di kelas yang tidak bisa mendongeng atau memiliki nilai sastra, sehingga kecil kemungkinan nilai-nilai edukasi yang terkandung dalam dongeng bisa diserap oleh anak didik. Nilai edukatifnya pada unsur intrinsik karya sastra prosa. Di dalamnya terkandung unsur tema, amanat, sudut pandang atau point of view, penokohan, setting, dan gaya. Dari segi amanat cerita selain pesan yang disampaikan oleh pengarang ada juga nilai edukatif yang bisa diambil oleh pembaca yang selanjutnya nilai-nilai tersebut bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai edukatif tersebut disampaikan oleh pengarang mungkin secara implisit, eksplisit atau gabungan keduanya.

Sastra dan budaya sangat berhubungan erat, karena sastra merupakan bagian dari kebudayaan. Setiap masyarakat pada jaman tertentu yang hidup dalam suasana damai sering meninggalkan hasil kebudayaan yang berupa kesenian kepada generasi berikutnya. Ini menunjukkan eksistensinya sebagai bangsa atau masyarakat yang telah berbudaya. Masyarakat Mesir Kuno misalnya meninggalkan piramida yang sampai sekarang masih bisa dinikmati keberadaannya. Masyarakat yang hidup pada jaman Mataram Kuno meninggalkan candi Borobudur dan Prambanan yang sekarang masih berdiri kokoh.

Selain peninggalan yang berupa bangunan ada juga peninggalan yang berupa karya sastra yang umumnya tertulis pada rontal atau pada kulit kayu atau bahkan pada kulit binatang. Kita tidak akan tahu sejarah kerajaan Majapahit yang merupakan kerajaan Nusantara terbesar kedua setelah Sriwijaya tanpa lewat studi filologis rontal peninggalan kerajaan tersebut. Dan rontal tersebut merupakan salah satu karya sastra besar pada zamannya yakni kitab Sutasoma dan Negara Kertagama.

Dongeng akan selalu menarik perhatian karena mengungkapkan penghayatan manusia yang paling dalam, perjalanan hidupnya di segala zaman dan di segala tempat di dunia ini. Melalui karya sastra sebagai hasil kesenian, kita memasuki dunia pengalaman bangsa dan bangsa-bangsa dalam sejarah dan masyarakatnya, menyelami apa yang pernah dipikirkan dan dirasakan, dengan demikian menambah kearifan dan kebijaksanaan dalam kehidupan.

About Admin

Sismanto, lahir di Pati, 28 tahun yang lalu. Putra pertama dari 4 bersaudara ini menghabiskan waktu remajanya selama 17 tahun di pondok pesantren sembari menimba ilmu pengetahuan umum, ia menamatkan S2 Magister Kebijakan Pendidikan (2006). Tulisan-tulisannya pernah menghiasi beberapa Koran dan majalah, baik lokal maupun nasional seperti; Koran Pendidikan, Kaltim Post, Tribun Kaltim, Majalah Spora, Majalah Mata Baca, dan pemimpin redaksi primagazine. Sementara buku pertamanya tidak jauh dari tulis menulis dan minat baca yang berjudul "Manajemen Perpustakaan Digital" (Afifa Pustaka, 2007). Buku keduanya ditulis secara kolosal "Menggenggam Cahaya" (Eska Publishing House, 2008). Pernah menjadi finalis lomba Karya Tulis Sinologi V Nasional di Yogyakarta (2007). Finalis Lomba Karya Tulis Nasional Departemen Agama RI (2007), dan finalis Lomba Karya Tulis Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3) di PT. Kaltim Prima Coal (2008). Saat ini aktivitasnya menjadi guru SD Primaschool PT. Kaltim Prima Coal, di samping itu juga sebagai konsultan pendidikan dan analis kebijakan pendidikan. Beliau punya motto "jadilah guru diri sendiri sebelum menjadi guru orang lain". Saat ini masih terobsesi menjadi "teroris ilmu pengetahuan” dan sedang mempersiapkan diri untuk kuliah S3. Sismanto dapat dihubungi dengan mengunjungi blog di Situs Pribadi Sismanto dan di Ketika Guru Menulis.
This entry was posted in Artikel and tagged . Bookmark the permalink.

4 Responses to Integrasi Nilai-Nilai Edukasi Dongeng dalam Kurikulum

  1. Memang benar, dongeng merupakan sebuah bacaan dalam menghadapi kejenuhan dalam belajar, selain mempengaruhi watak pelajar. Dengan menyelami karakter dalam dongeng, menurut saya itu sangat berpengaruh pada karakter tetapi apakah dongeng selalu dikaitkan dengan mistis timur, memang pada kenyataannya dongeng tidak hanya untuk dibacakan pada pelajar adakalanya mahasiswa, guru, dan orang tua yang membacakan dongeng untuk anak, ya dalam konteks bagaimana pesan dari bacaan itu.
    Menurut saya, alangkah baiknya jika budaya baca diperkenalkan semenjak dini bukan budaya retorika. Karena semasa kecil, kita hanya diajarkan untuk beretorika bukan membaca.
    peran guru dan orang tua dalam mengarahkan anak-anaknya.

  2. Sismanto says:

    Sepakat bu Elsya,

    dongeng memang tidak sepenuhnya dianalogkan dengan budaya dan mistis timur, tetapi beberapa buku sudah menulis tentang dongeng-dongeng yang berasal dari Barat.
    sejak kecil anak-anak memang tidak seharusnya diajari retorik, karena hal ini bisa menjadikan blunder bagi anak dan masyarakatnya. lebih baik ajari anak membaca, membaca dan membaca. lantas kemudian menulis. bila dalam satu hari kita membiasakan anak membaca minimal 5 menit saja, berapa ilmu yang mereka dapatkan dari itu.

    Salam,

  3. azhar achmad says:

    bagus topik yang diulas namun akan lebih bagus lagi jika dilengkapi dengan data tentang existence kebiasaan mendongeng dikalangan masyarakat Indonesia pada saat sekarang ini. apakah kita masih menggunakan media dongeng dalam pembentukan moral atau tidak dalam keseharian dan dampak apa saja yang ditimbulkan dongeng yang bersifat membangun?

  4. Sismanto says:

    saran yang bagus Bapak,

    sementara ini saya kekeurangan informasi data-data faktual yang berhubungan dengan ini. sepanjang sepengetahuan saya, jarang sekali penelitian yang dipublikasikan yang akhirnya sampai ke masyarakat tentang dampak atau tidaknya dongeng dalam pembangunan karakter. begitu juga apakah dongeng masih relevan atau tidaknya juga kurang didukung oleh data. kalau hanya sekedar asumsi, sudah terlalu jarang dan sering malah orang tua yang tidak menggunakan media ini untuk pembentukan karakternya.

    terimaksih atas koreksiannya.
    Salam

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s