Peran Ayah dalam Mendidik Akhlak Anak

Anak-anak yang tumbuh dengan kehadiran sang ayah dibandingkan dengan anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran sang ayah, tentulah berbeda. Disadari atau tidak ada peran-peran sang ayah yang tidak dapat digantikan oleh pihak lain. Tentu yang dimaksud kehadiran sang ayah disini adalah kehadiran ayah secara fisik dan emosional. Bukan sembarang ayah tetapi ayah yang mampu berinteraksi secara emosional, memahami dan mengenal emosi anak-anaknya, mampu mendorong serta mendukung secara moril.

Banyak hasil riset dan pendapat para ahli psikologi yang menyatakan bahwa keterlibatan seorang ayah dalam mengasuh anaknya adalah penting. Peran ayah yang tidak dapat digantikan oleh sang ibu ini, dapat membentuk kecerdasan emosional anak dalam kehidupan sosialnya, bergaul dengan teman-teman dan kesuksesan di sekolah. Kehadiran ayah dapat mengoptimalkan potensi yang ada pada diri anak.

Pengaruh sosok ayah ini juga dikatakan memiliki kekuatan yang tetap. Bukan hanya ketika anak itu sudah menginjak remaja, semasa kecil masa balita, interaksi ayah dan anak ini akan semakin menguatkan. Pada banyak kasus dimana ayahnya hadir dan merawat ketika mereka balita, anak tumbuh dewasa menjadi sosok pribadi yang lebih simpatik, empati, hangat dan cenderung memiliki hubungan sosial yang baik dan rasa percaya diri yang tinggi.

John Gottman dalam bukunya “Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional”, mengungkapkan bahwa para ayah lazimnya berinteraksi dengan anaknya berbeda dengan cara sang ibu berinteraksi. Ibu umumnya berinteraksi dengan lebih tenang, stabil dan lembut. Bermain dengan lembut atau membacakan sebuah buku cerita dengan tenang. Ibu akan lebih cenderung memainkan mainan yang sudah lazim seperti cilukba, tepuk tepuk, membaca buku, mengerakkan mainan atau puzzle. Dengan ayah, anak akan bermain lompat lompat, memanjat, kuda-kudaan atau pesawat terbang dengan mengangkat tubuh anak, permainan-permainan yang melibatkan emosi tinggi dan menggairahkan.

Ayah akan menjadi “pelatih emosi” yang berbeda dengan ibu, dengan dua pelatih emosi yang berbeda inilah diharapkan hasil didikan ibu dan ayah akan mencapai keseimbangan dalam pribadi seorang anak. Orang tua memegang peranan yang amat dominan dalam perkembangan anaknya, sebagaimana sabda Rasul SAW, walaupun tidak menafikkan banyak sekali faktor yang mempengaruhi pertumbuhan anak. Kedua orang tua memiliki “warna” untuk mewarnai dunia anak-anaknya.

“Setiap anak dilahirkan dalm keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi.” (HR. Bukhari)

Ayah dan ibu, memiliki peran masing-masing yang saling mendukung dan membantu. Bila salah satu fungsi rusak, anak akan kehilangan identitas. Ayah menjadi panutan yang sangat dibutuhkan bagi anak dan umumnya sentuhan kasih ayah lebih berkesan mendalam di hati anak-anak. Ada istilah ayah hero anak-anak karena peran yang unik dan istimewa dimana ayah menjadi pujaan hati oleh gadis kecilnya dan menganggap seorang ibu adalah saingan. Disana ia akan belajar mengenai figur laki-laki yang akan memberikan sudut pandang laki-laki, gadis kecil ini akan tumbuh menjadi sadar dengan identitas kewanitaannya. Selama ibu dan ayah bisa menjelaskan secara proporsional pada masa ini, gadis kecil anda akan mulai belajar mengenal figur sosok laki-laki secara baik (Majalah Ayah Bunda).

Ayah juga merupakan panutan yang berbeda dengan ibu. Ketegasan yang berbeda dengan ketegasan seorang ibu, penyayangnya yang berbeda dengan penyayangnya ibu dan masih banyak lagi, sorot mata kecil anak-anak kita mengamati sosok ayah yang tentunya berbeda dengan ibu. Simaklah perkataan Sayyid Qutb, yang mempunyai ayah sebagai panutannya: “Semasa kecilku, ayah tanamkan ketaqwaan kepada Allah dan rasa takut akan hari akhirat. Engkau tak pernah memarahiku, namun kehidupan sehari-harimu telah menjadi teladanku, bagaimana prilaku orang yang ingat akan hari akhir”.

Menyadari pentingnya peran ayah tersebut, sangat disayangkan sekali bila masih banyak ayah-ayah yang “bertebangan” diluar yang melewati masa-masa pertumbuhan anaknya, yang tidak berinteraksi dalam merawat dan membentuk ikatan dengan anak-anaknya. Anak-anak dapat berbuat buruk dan kejahatan pada ayah jika pendidikan serta berbegai urusan mereka diabaikan. Untuk mempermudah pemahaman, sekilas saya berikan tamsil tugas para ayah misalnya:
1. Pengasuhan anak-anak
2. Persamaan
3. Kehangatan cinta kasih
4. Menghindari pemakaian bahasa kotor
5. Mengawasi perilaku anak-anak
6. Pendisiplinan
7. Menjauhkan anak dari berbagai aktivitas seksual
8. Menjauhkan anak-anak dari makanan yang haram

Masih banyak contoh yang belum saya sebutkan peran ayah dalam keberlansungan dalam pendidikan anaknya. Semoga, tulisan singkat ini dapat membantu para Bapak dalam mendidik anak-anaknya. Amin…

Sangatta, 20 Mei 2008
Sismanto
https://mkpd.wordpress.com

About Admin

Sismanto, lahir di Pati, 28 tahun yang lalu. Putra pertama dari 4 bersaudara ini menghabiskan waktu remajanya selama 17 tahun di pondok pesantren sembari menimba ilmu pengetahuan umum, ia menamatkan S2 Magister Kebijakan Pendidikan (2006). Tulisan-tulisannya pernah menghiasi beberapa Koran dan majalah, baik lokal maupun nasional seperti; Koran Pendidikan, Kaltim Post, Tribun Kaltim, Majalah Spora, Majalah Mata Baca, dan pemimpin redaksi primagazine. Sementara buku pertamanya tidak jauh dari tulis menulis dan minat baca yang berjudul "Manajemen Perpustakaan Digital" (Afifa Pustaka, 2007). Buku keduanya ditulis secara kolosal "Menggenggam Cahaya" (Eska Publishing House, 2008). Pernah menjadi finalis lomba Karya Tulis Sinologi V Nasional di Yogyakarta (2007). Finalis Lomba Karya Tulis Nasional Departemen Agama RI (2007), dan finalis Lomba Karya Tulis Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3) di PT. Kaltim Prima Coal (2008). Saat ini aktivitasnya menjadi guru SD Primaschool PT. Kaltim Prima Coal, di samping itu juga sebagai konsultan pendidikan dan analis kebijakan pendidikan. Beliau punya motto "jadilah guru diri sendiri sebelum menjadi guru orang lain". Saat ini masih terobsesi menjadi "teroris ilmu pengetahuan” dan sedang mempersiapkan diri untuk kuliah S3. Sismanto dapat dihubungi dengan mengunjungi blog di Situs Pribadi Sismanto dan di Ketika Guru Menulis.
This entry was posted in Artikel and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Peran Ayah dalam Mendidik Akhlak Anak

  1. infogue says:

    Artikel di blog ini menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com
    http://keluarga.infogue.com/peran_ayah_dalam_mendidik_akhlak_anak

  2. Isti says:

    artikel ni harusnya dibaca oleh smua ayah di dunia agr mereka tahu peranan ayah dlm mendidik anak ternyata jg sangat penting yg tdk hanya dilimpahkan sama si ibu saja. salut dech pakk,…

  3. Sismanto says:

    HHmmm…..benar juga ya, semoga doanya terkabul. Keep your spirit. Amin🙂

  4. Manika says:

    Terimakasih artikelnya. Nanti sy beritahukan suami sy.
    Bpk sangattanya dimana ya? Suami sy 2 bln lalu baru pulang dr sana.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s