Dua Hati, Satu Cinta


Tanggal 14 Juli 2008 adalah hari bersejarah bagi para guru dan murid di sekolah saya. Karena pada tanggal itu para murid di sekolah dengan senangnya memasuki sekolah dengan tas baru, sepatu baru, buku baru, dan semangat baru. Kebanyakan mereka sudah mempersiapkan jauh-jauh hari untuk menghadapi tanggal tersebut, dan memang kebanyakan anak didik di sekolah saya menggunakan perlengkapan sekolah dengan perlangkapan yang relatif baru. Mereka ingin dengan alat dan perlengkapan sekolah yang baru akan ada harapan baru dalam asa mereka sebaru perlengkapannya.

Bagi anak TK yang naik tentu akan senang karena pada tanggal ini dia tidak lagi disebut sebagai anak TK, rasanya mereka akan protes jika masih dipanggil anak TK. Padahal, terkadang ada juga baju yang mereka gunakan adalah baju TK, maklum saja jahitan baju yang digunakan untuk seragam SD belum jadi.

Bagi anak SD yang kemarin kelas enam, tentu hari ini juga akan bersorak gembira karena dia juga tidak disebut sebagai anak SD, dia menjadi anak SMP. Baju seragamnya pun tidak mau ”merah putih”, anak ini akan selalu menggunakan seragam ”biru putih”, karena dia ingin disebut sebagai anak SMP bukan anak SD lagi. Sementara bagi para guru juga tak kalah senangnya, karena pada tanggal itu juga para guru akan menyambut kedatangan murid-murid baru di kelasnya. Murid-murid yang sebelumnya tidak dia kenal, nantinya akan dianggap seperti anaknya sendiri.

Pun demikian dengan tugas guru di awal tahun pembelajaran, misalnya saja tahun ini sebelum menyambut kehadiran anak didik yang baru. Saya harus menyiapkan semua administrasi pembelajaran mulai dari program tahunan (prota), program semester (promes), sampai pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Untuk RPP, dulu kita kenal dengan istilah Rencana Pembelajaran (RP). hal ini belum lagi pada analis butir soal, analisis ketuntasan belajar, dan jika kita sebagai wali kelas maka di akhir semester kita akan menuliskan rapor (hasil belajar) bagi anak didik kita.

Tentu, hal ini semakin menjadikan saya bersemangat menempuh awal tahun pembelajaran ini. Berbeda halnya dengan guru yang punya kharakter lain dalam hal ini saya menyebut dengan istilah ”teacher post power syndrome”, jika dulunya dia sebagai guru yang luar biasa di jamannya, namun tidak pada jaman sekarang. Semoga saja asumsi saya salah bahwa tidak ada post power syndrom bagi guru. ”Anakku, Guru tetaplah guru dari dulu sampai akhir hayatnya, boleh seorang peserta didiknya menjadi presiden, menteri, gubernur, tapi guru tetap menjadi guru. Guru bukanlah Panglima Besar Jenderal Sudirman, pemimpin perang gerilya yang mempertahankan kedaulatan negara dari para penjajah. Sudirman yang kala itu berasal dari kalangan guru menjadi tentang. Anakku, gurumu bukanlah Panglima Sudirman, Gurumu akan tetap menjadi gurumu meskipun engkau kelak menjadi guru”. Sebuah pelajaran terakhir yang saya terima dari Pak Markidjan, kepala sekolah SD di pelosok pesisir utara dulu ketika saya di wisuda dari SD.

Hal ini juga mengingatkan saya beberapa bulan yang lalu, tepatnya Nopember 2007 ketika saya menyampaikan presentasi di depan juri dalam lomba karya tulis nasional di Jakarta, ada peserta lomba yang mengusung tema menarik saya kira, namun dia menyampaikan kurang maksimal sehingga dia tidak bisa lolos sebagai juara pertama dalam perlombaan tersebut. Tema yang diangkat pun cukup menarik, yakni seputar keteladanan guru yang kemudian dikerucutkan dengan guru muda dan guru tua (seperti wacana pilpres 2009 saja, ada istilah calon presiden tuda dan calon presiden muda). Calon yang terakhir ini yang kemudian disebut dengan calon alternatif dan terkadang berasal dari calon independen.

Salah seorang juri menanyakan kepada nominator yang menyampaikan presentasi tadi dengan agak sedikit tertawa ”lho, masa ada guru koq di kotak-kotakkan menjadi guru muda dan guru tua. Berarti seperti saya dan juga juri di sebelah saya yang tergolong berusia tua juga digolongkan sebagai guru tua?”. tanya seorang juri.

Nominator tadi menjawab dengan agak malu-malu, malu kalau jawabannya salah atau memang malu belum ada konsepsi itu dalam pendidikan kita. Tapi nyatanya memang ada. ”Bapak, saya memberi label begini ini hanya untuk menjustifikasi bahwa guru tua itu identik dengan keengganannya untuk mempersiapkan administrasi pembelajaran, ketidaksiapannya menghadapi peserta didiknya di kelas, dan keengggananya meluangkan waktu semenit saja untuk anak didiknya. Guru-guru tua hanya memperhatikan waktu tugasnya saja di sekolah, ketika masa tugasnya selesai maka dia akan pulang kerumahnya sebelum anak didiknya sampai di rumahnya masing-masing. Dan bahkan, bagi guru-guru yang sudah mapan (katakanlah beberapa oknum guru PNS) ada juga yang hanya datang pada jam-jam pelajaran yang diampunya saja”.

Begitulah pelajaran yang saya ambil hari itu dari salah seorang peserta lomba dari Sumatera, meski dia masih fresh gradued tapi pemikirannya luar bisa dan saya memberikan apresiasi atas pemikirannya. Kini hari ini, hari kali pertama pembelajaran di sekolah mudah-mudahan menjadi titik awal perjuangan bagi para guru dengan menyatukan dua hati, dua cinta antara anak didik dengan gurunya di tengah kebanggaan para orang tua yang melepas anaknya untuk sekolah, di tengah kepercayaan orang tua menyerahkan amanahnya kepada sekolah lewat anaknya untuk dididik menjadi generasi penerus bangsa ini, menjadi generasi yang Rabbani menjadi jiwa-jiwa yang ululu albab.

Semoga saja, kelak jika saya diberi umur panjang dan tetap diberi kesempatan menjadi guru bagi anak didik saya, keluarga, dan minimal guru bagi diri saya sendiri, saya menjadi guru yang terus mempertahankan keteladanan, guru yang selalu menyiapkan waktu dua puluh empat jam untuk melayani anak didik di tengah kesibukan bersama keluarga. Meski berada pada pertentangan dinamika profesionalisme guru, saya akan tetap menjadi pelayan yang baik bagi anak didik saya.

Bagaimana dengan Bapak/Ibu guru?

PS: saya tuliskan cinta ini buat para guru, semoga menjadi guru yang dapat menyatukan cinta dengan anak didiknya.

Sangatta, 13 Juni 2008
“Jadilah guru diri sendiri, sebelum menjadi guru orang lain”
https://mkpd.wordpress.com

About Admin

Sismanto, lahir di Pati, 28 tahun yang lalu. Putra pertama dari 4 bersaudara ini menghabiskan waktu remajanya selama 17 tahun di pondok pesantren sembari menimba ilmu pengetahuan umum, ia menamatkan S2 Magister Kebijakan Pendidikan (2006). Tulisan-tulisannya pernah menghiasi beberapa Koran dan majalah, baik lokal maupun nasional seperti; Koran Pendidikan, Kaltim Post, Tribun Kaltim, Majalah Spora, Majalah Mata Baca, dan pemimpin redaksi primagazine. Sementara buku pertamanya tidak jauh dari tulis menulis dan minat baca yang berjudul "Manajemen Perpustakaan Digital" (Afifa Pustaka, 2007). Buku keduanya ditulis secara kolosal "Menggenggam Cahaya" (Eska Publishing House, 2008). Pernah menjadi finalis lomba Karya Tulis Sinologi V Nasional di Yogyakarta (2007). Finalis Lomba Karya Tulis Nasional Departemen Agama RI (2007), dan finalis Lomba Karya Tulis Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3) di PT. Kaltim Prima Coal (2008). Saat ini aktivitasnya menjadi guru SD Primaschool PT. Kaltim Prima Coal, di samping itu juga sebagai konsultan pendidikan dan analis kebijakan pendidikan. Beliau punya motto "jadilah guru diri sendiri sebelum menjadi guru orang lain". Saat ini masih terobsesi menjadi "teroris ilmu pengetahuan” dan sedang mempersiapkan diri untuk kuliah S3. Sismanto dapat dihubungi dengan mengunjungi blog di Situs Pribadi Sismanto dan di Ketika Guru Menulis.
This entry was posted in Artikel and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Dua Hati, Satu Cinta

  1. Sismanto says:

    Salam kenal juga yach..

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s