Jejak Tinju Pak Kiai

Judul : Jejak Tinju Pak Kiai

Penulis : Emha Ainun Nadjib

Halaman : xiii + 240 hlm

Penerbit : PT. Kompas Media Nusantara

Tahun Terbit : September, 2008

Kota Terbit : Jakarta

Peresensi : Sismanto


jejak-tinju-pak-kiaiBuku dengan judul yang provokatif sehingga menarik perhatian untuk membaca isinya. Desain cover depan dominan warna kuning dan putih ini tepat sekali jika Cak Nun memberi judul “Jejak tinju Pak Kiai”, judul yang diambil dari salah satu esainya yang dimuat dalam Seputar indonesia, 24 Agustus 2007. Buku ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan yang pernah dimuat oleh berbagai media di Indonesia.

Apa yang menjadi fokus dari seorang Emha melalui bukunya ini? “Kalau saya shalat, bukan saya benar-benar shalat. Itu saya ngakali Tuhan. Shalat saya hanya alat untuk mencari kemungkinan tambahan agar tercapai kepentingan tertentu yang saya simpan diam-diam dan Anda tak boleh tahu. Misalnya, shalat saya bertujuan agar cita-cita saya tercapai, di bidang kekuasaan, kenaikan pangkat, atau pembengkakan deposito bank saya. Tetapi aslinya pamrih saya Anda tak akan tahu, sebab Anda terlalu meremehkan atau under estimate terhadap tingkat kejahatan dan keserakahan hidup saya” (Hal.11). Kegelisahan Cak Nun di perlihatkan juga pada kebiasaan pengemis, sebagai kebiasaan seseorang yang kuat dan mempu bekerja dengan baik tetapi lebih suka mengemis atau memang dikarena faktor yang tidak memungkinkan lagi bagi seseorang tersebut untuk mencari pekerjaan lain selain menjadi pengemis. Bagi Cak Nun, melihat fenomena demikian, ”saya berniat memberi, jangan dimintai. Kalau memberi karena dimintai apa hebatnya, tetapi kalau memberi tidak diminta itu baru nikmat (hal. 33).

Dalam buku ini Emha Ainun Nadjib menuliskan kegelisahannya soal reog, batik, lagu Rasa Sayange yang diakui sebagai kebudayaan Malaisya. Tidak hanya itu saja Emha juga sangat peduli dengan rakyat kecil. Hal ini dibuktikan dalam tulisannya akan kegelisah dengan musibah Pasar Turi di Surabaya, gelisah dengan nasib TKI di Malaysia, gelisah dengan masalah lumpur Lapindo yang tak kunjung usai. Bahkan kegelisahannya bertambah soal Pilkada yang cenderung kisruh di berbagai daerah. Serta tulisan lain seperti Austranesia, Pecel Suriname, Buto Kempung, Tanah Halal Air Halal, Mudik Keluarga Mudik Bangsa, serta tulisan “Nabi membakar Masjid; Puasa, Setan dan Gempa, serta Islamic Valentine Day

Kegelisahan seorang Emha, patut disyukuri sebagai kegelisahan seorang yang dikagumi mulai dari almarhum mantan presiden Soeharto sampai SBY, karena dalam kegelisahannya, Emha sebagai seorang yang “menyunggi wakul” mampu mengayomi dan memberi solusi. Terbukti dengan banyaknya SMS yang meminta jawaban Cak Nun, tidak lebih dari 3.000 an orang meminta nama dan Cak Nun memberikan nama yang berbeda dan malah belum memberikan bunyi nama yang sama. Tidak hanya itu saja, ternyata “nyunggi wakulnya” Cak Nun juga ditandai dengan sikap arif dan santunnya sembari memberi jawaban via SMS tentang pekerjaan, jodoh, dan lain sebagainya. Tentunya, “nyunggi wakulnya” Cak Nun berbeda dengan “nyunggi wakulnya” seorang ibu rumah tangga yang takut tidak dapat mencukupi jatah beras sebulan untuk hidup keluarganya­­­.

Kegelisahan Emha juga disampaikan lewat sindiran terbaliknya bahwa manusia telah sesat sistem, sesat moral, sesat budaya, dan sesat di segala wilayah; perda, perpres, perdes, di rumah tangga, perusahaan, di jalanan. Khalifah Abdul Aziz menangis membentur-benturkan kepala ke lantai, bersujud mohon ampun kepada Allah, “hanya” karena seekor unta terpeleset di jalan di wilayah pemerintahannya. Sementara dalam kehidupan kita jumlah penganggur bertambah puluhan juta tak ada yang merasa bersalah, dilema kesengsaraan ribuan penduduk bawah jalan tol belum beres, pemimpinnya tega nampang mencalonkan diri akan jadi presiden (hal. 217-218).

Kecerdasan Cak Nun dalam buku ini dapat diliat dari pemilihan diksi yang luar biasa dengan menggunakan istilah-istilah lokal semisal “nyunggi wakul”, “gembelengan”. gondes, bleksor, buto kampung, “La Ubali, Gak Patheken” maupun menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Arab. Banyaknya istilah asing (Arab) yang dimasukkan dalam tulisannya, Cak Nun mewanti-wanti redaktur sekedar mengingatkan penulisan diksi yang diinginkan Cak Nun tersebut. Misalnya pada, jawaban yang ada dalam pikiran saya, namun belum saya SMS-kan adalah “Emangnya siapa saya sehingga berhak menjawab itu? Apakah aku seorang mufassir (bukan musafir, lho mas redaktur)? Apakah aku panutan umat? Kenapa di bidang hari raya saja engkau mau menganut aku? (hal. 187).

Melihat petikan tulisan tersebut memberikan dua kemungkinan bagi pembaca buku ini. Pertama, kecerdasan Cak Nun dalam pemilihan diksi yang menarik dan fenomenal yang diadaptasi dari kultur lokal sehingga menghadirkan local indegenious ataupun menghiasi tulisannya dengan pemilihan diksi dari Bahasa Arab yang juga karakter Cak Nun manakala di pondok pesantren maupun pergumulannya di kancah internasional. Kedua, kelalaian editor buku ini. Jika ini terjadi, maka perlu adanya reinterpretasi bagi para editor bahwa meskipun tulisan tersebut ditulis oleh penulis hebat dan terkenal bisa jadi tulisan tersebut diedit ulang meskipun hanya terbatas editing pada salah ketiknya saja.

Dalam tulisannya ini pada gilirannya bermuara pada bagaimana perlunya bersikap arif, melatih kesabaran, perlunya menjadi makhluk wajib yang berguna bagi sesame, meninggalkan kesombongan, meninggalkan arogansi yang bodoh, sikap fanatisme yang berlebihan, serta mencanangkan rasa nasionalisme dalam dimensi yang berbeda-beda menurut cara pandang orang per orang. Kegelisahan Emha dalam buku ini memunculkan tulisan-tulisan yang produktif, provokatif, menyentil, menghibur bahkan kadang memerahkan telinga pembacanya. Dalam tulisannya Cak Nun menuliskan “ada yang mengkritik, tetapi tidak bisa memberi jalan keluar. Ada yang memberi jalan keluar tanpa mengkritik (hal. 5). Namun demikian, Cak Nun dalam tulisannya tidak terkesan menggurui, namun justru memberikan solusi. nalar dan daya tambah untuk lebih legawa dalam mengimani hidup, hati sekaligus membeningkan hati dan pikiran.

http://warnaislam.com/rubrik/resensi/2008/12/26/23640/Jejak_Tinju_Pak_Kiai.htm

About Admin

Sismanto, lahir di Pati, 28 tahun yang lalu. Putra pertama dari 4 bersaudara ini menghabiskan waktu remajanya selama 17 tahun di pondok pesantren sembari menimba ilmu pengetahuan umum, ia menamatkan S2 Magister Kebijakan Pendidikan (2006). Tulisan-tulisannya pernah menghiasi beberapa Koran dan majalah, baik lokal maupun nasional seperti; Koran Pendidikan, Kaltim Post, Tribun Kaltim, Majalah Spora, Majalah Mata Baca, dan pemimpin redaksi primagazine. Sementara buku pertamanya tidak jauh dari tulis menulis dan minat baca yang berjudul "Manajemen Perpustakaan Digital" (Afifa Pustaka, 2007). Buku keduanya ditulis secara kolosal "Menggenggam Cahaya" (Eska Publishing House, 2008). Pernah menjadi finalis lomba Karya Tulis Sinologi V Nasional di Yogyakarta (2007). Finalis Lomba Karya Tulis Nasional Departemen Agama RI (2007), dan finalis Lomba Karya Tulis Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3) di PT. Kaltim Prima Coal (2008). Saat ini aktivitasnya menjadi guru SD Primaschool PT. Kaltim Prima Coal, di samping itu juga sebagai konsultan pendidikan dan analis kebijakan pendidikan. Beliau punya motto "jadilah guru diri sendiri sebelum menjadi guru orang lain". Saat ini masih terobsesi menjadi "teroris ilmu pengetahuan” dan sedang mempersiapkan diri untuk kuliah S3. Sismanto dapat dihubungi dengan mengunjungi blog di Situs Pribadi Sismanto dan di Ketika Guru Menulis.
This entry was posted in Resensi Buku and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s