Kemandirian Organisasi

​Berikut ini adalah resume saya tentang kemandirian organisasi yang saya berikan pada Kul Wattapps di salah satu grub NU Kutai Timur, semoga bermanfaat.

Salam,

Sismanto HS

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh 

Dengan menyebut nama Tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang

perkenankan malam hari ini saya ingin menyampaikan kuliah whatsapp yang berkaitan dengan usul yang disampaikan oleh gus Mungdir.

Dewasa ini masalah kemandirian suatu lembaga atau organisasi menjadi sangat penting mengingat tidak dapat dipungkiri bahwa ada istilah *jer basuki mawa bea*.

Lancar tidaknya sebuah kegiatan ditentukan ada tidaknya biaya, meskipun ada variabel lain yang menentukan lancar tidaknya kegiatan namun yang paling dominan adalah faktor ini.

Dalam kaitan nya organisasi nahdlatul ulama bagaimana kemandirian organisasi itu apakah bisa terbangun caranya seperti apa ? dan bagaimana mekanisme?

Dahulu sebelum era gus dur menjadi presiden warga nahdlatul ulama dalam membiayai operasionalnya lebih cenderung menggunakan gaya mandiri.

Bahkan sampai kegiatan sebesar muktamar para perwakilan daerah daerah datang untuk menghadiri acara muktamar tersebut dengan biaya mandiri dan swadaya.

Pembiayaan model ini berlangsung bertahun-tahun hingga kemudian mindset yang terjadi pada warga nahdlatul ulama berubah dari yang sifatnya partisipatif warga jamiyyah ke  pembiayaan yang cenderung mengandalkan proposal.

Padahal modal sosial dan partisipasi warga jamiyyah yang begitu besar cenderung tidak ter akomodasi.

Misalnya ketika kita mengadakan kegiatan pengajian umum. Bila sudah mendapatkan atau cair biaya yang didapatkan dari proposal tersebut, maka penggalian dana partisipatif masyarakat tidak di akomodasi dan terlena dengan mudah pembiayaan berbasis proposal.

Pembiayaan model ini yang berbasis dengan proposal baik apabila organisasi nahdlatul ulama memiliki partner yang kuat di pemerintahan. Namun apabila organisasi nahdlatul ulama tidak memiliki partner yang kuat di pemerintahan tentu fund raising penggalian dana yang model dari proposal ini efektivitas yang menjadi berkurang.

Sebelum kita berbicara apa dan bagaimana kemandirian organisasi dan bagaimana langkah ril nya?

Usulan /obrolan ustad gus munzir pagi tadi sangatlah bagus dengan gagasan membuka swalayan NU atau bahkan memberikan contoh di ponorogo ada rumah sakit muhammadiyah ponorogo keuntungannya mencapai 28 miliar per tahun.

Saya ingin bercerita tentang sahabat saya yang kebetulan membangun bisnisnya dari nol. Barangkali cerita ini bisa ditiru diterapkan dan diaplikasikan pagi jam iyah nahdlatul ulama khususnya kutai timur.

Tentu saja hal ini menjadi kegelisahan kita bersama sebagaimana yang diusulkan oleh ustadz gus mundir dibutuhkan sebuah kemandirian organisasi yang riil.

Sahabat saya yang kebetulan satu sekolah dengan saya dan umurnya seumuran dengan saya, dia memulai usahanya dari nol. Ini adalah tahun ketiganya omset yang dia bangun sudah mencapai 100 miliar.

Apa usahanya awal-awal grup nahdliyin ini dibentuk saya pernah mengungkapkan 3 bidang yang seattle dan increased. Apa bidang itu yang pertama adalah mall rumah sakit, dan hotel. Namun temen saya awalnya tidak mengambil ketika bidang itu namun lambat laun bidang itu yang digarap.

Dia menjadikan sebuah yayasan sebagai kedok PT yang didanai oleh investor padahal dia tidak memiliki sepeserpun dana yang ditanamkan dalam saham itu. Dengan visi misi yang jelas serta transparansi keuangan yang akun table seseorang investor itu mau mendanai yayasan tersebut.

Tentu saja dengan sdm dan warga yang melimpah ini merupakan keuntungan dan modal besar bagi organisasi kita, didukung dengan para aghniya, pejabat yang nu dpr yang nu dan simpatisan yang peduli dengan kemandirian organisasi nahdlatul ulama. Yang jadi permasalahan kemudian adalah tingkat kepercayaan warga nu dengan pengelola yang mengelola nya nanti lebih-lebih track record pengelola kurang dipercaya,  padahal banyak warga nu yang bisa mengelola transparan, dan akuntable.

Yang terpenting adalah mekanisme pembagian kerja dan keuntungan yang jelas di awal-awal.

Sebelum berbicara mengenai mekanisme pembagian dan job desk nyasar lanjutkan cerita sebenarnya apa sih yang dilakukan oleh sahabat saya itu dia sebenarnya ingin membangun properti sebagaimana yang dilakukan oleh kang yasin. 

Agar daerah tersebut menjadi daerah yang marketable, maka di bangunlah sebuah yayasan pendidikan. Inilah usaha yang pertama yang dilakukan oleh sahabat saya.  tanah tanah di sekitarnya dibebaskan dan kemudian dan tanah disebut digarap menjadi mall, quest house/ hotel, dan cafe. Inilah yang menjadikan omset nya menjadi 100 M hanya dalam waktu 3 tahun.

Agar organisasi induknya atau yayasan pendidikan yang sudah seatle dan tidak terbebani oleh beban atau gambling usaha baru maka setiap membuat usaha baru dibentuk lah sub kontraktor atau sub perusahaan. 

Usaha-usaha yang produktif yayasan tersebut menanam saham lebih besar daripada investor lain sementara usaha-usaha yang kurang produktif yayasan tersebut menanamkan sahamnya maksimal 30% dari total saham yang dibutuhkan untuk memulai usaha.

Apa itu usaha yang produktif ?

misalnya properti ini adalah usaha yang keuntungannya hanya pada tahun tertentu atau ketika semua aset atau perumahan terjual saham yang ditanamkan oleh yayasan tersebut maksimal 30% sementara be yang lain dicarikan investor. Sementara hotel cafe dan sebagainya yang keuntungannya tidak terbatas waktu inilah yang didanai lebih besar oleh yayasan tersebut

bahkan ketika membuat minimarket, tanah gedung disiapkan oleh saham yayasan dengan membentuk Sub PT sementara operatornya adalah Pihak ketiga yaitu alfamidi atau indomaret yang saat ini sudah teruji sebagai operator retail yang kuat.

Demikian gambaran sederhana tentang sebuah kemandirian organisasi entah itu aplikasinya nanti berbentuk ekonomi kreatif yang peduli dengan wong cilik atau langsung organisasi nu membuat gebrakan dengan dengan membuat lini bisnis yang kuat yang bisa membiayai organisasi, dan tentu saja harapan kita bersama mudah-mudahan bisa di komandani oleh lembaga ekonomi nu. Namun apabila lembaga ekonomi nu belum bisa untuk mengelola nya maka perlu dipilih sdm sdm yang handal yang terpercaya transparan dan akun table untuk menjalankan men nahkoda lini bisnis,  usaha untuk membiayai organisasi.

Sementara untuk mekanisme, pembagian job desk, bisnis apa yang akan kita garap dan tentu saja pengembangannya bisa kita lakukan dengan kumpul-kumpul sambil ngopi ngopi untuk menemukan konseptual yang pas untuk membiayai organisasi.
Demikian kuliah whatsapp singkat malam ini mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Amin…

Wallahul muwafiq ilaa aqwamith thorieq 

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

*Sismanto HS*

About Admin

Sismanto, lahir di Pati, 28 tahun yang lalu. Putra pertama dari 4 bersaudara ini menghabiskan waktu remajanya selama 17 tahun di pondok pesantren sembari menimba ilmu pengetahuan umum, ia menamatkan S2 Magister Kebijakan Pendidikan (2006). Tulisan-tulisannya pernah menghiasi beberapa Koran dan majalah, baik lokal maupun nasional seperti; Koran Pendidikan, Kaltim Post, Tribun Kaltim, Majalah Spora, Majalah Mata Baca, dan pemimpin redaksi primagazine. Sementara buku pertamanya tidak jauh dari tulis menulis dan minat baca yang berjudul "Manajemen Perpustakaan Digital" (Afifa Pustaka, 2007). Buku keduanya ditulis secara kolosal "Menggenggam Cahaya" (Eska Publishing House, 2008). Pernah menjadi finalis lomba Karya Tulis Sinologi V Nasional di Yogyakarta (2007). Finalis Lomba Karya Tulis Nasional Departemen Agama RI (2007), dan finalis Lomba Karya Tulis Keselamatan & Kesehatan Kerja (K3) di PT. Kaltim Prima Coal (2008). Saat ini aktivitasnya menjadi guru SD Primaschool PT. Kaltim Prima Coal, di samping itu juga sebagai konsultan pendidikan dan analis kebijakan pendidikan. Beliau punya motto "jadilah guru diri sendiri sebelum menjadi guru orang lain". Saat ini masih terobsesi menjadi "teroris ilmu pengetahuan” dan sedang mempersiapkan diri untuk kuliah S3. Sismanto dapat dihubungi dengan mengunjungi blog di Situs Pribadi Sismanto dan di Ketika Guru Menulis.
This entry was posted in Artikel and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s